Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Dampaknya
Peristiwa demi peristiwa tragis terjadi dalam rumah tangga. Anggota keluarga dalam rumah tangga menjadi korban kekerasan dengan pelaku kepala rumah tangga sendiri.
Seorang suami membunuh istri karena cemburu, demikian topik sebuah tulisan di media massa. Peristiwanya di Jakarta Timur. Lagi, di Tangerang, Banten, seorang istri tewas dibakar suaminya. Bahkan, masih hangat dalam ingatan kita, di Bogor, Jawa Barat seorang istri tewas ditusuk suaminya. Ada juga seorang istri gegar otak akibat dianiaya suaminya. Demikian pula seorang istri cacat dan harus dirawat di rumah sakit hingga meninggal akibat dianiaya suaminya.
tangga yang memiliki anak berusia 3 tahun. Karena tidak bekerja, sehingga mengandalkan uang dari suami untuk makan dan keperluan rumah tangga setiap hari. Namun setiap kali ingin minta uang sang ibu harap-harap cemas, karena seringkali yang diperoleh hanya amarah atau makian dan bukan uang, sementara kebutuhan setiap hari terus mengalir.
Akibatnya ia harus berhutang di warung untuk makan. Sementara sang suami tidak peduli, dari mana memperolehnya, pokoknya harus tersedia makanan di atas meja. Bila istri mengomel, suami membalikkan kata dengan mengatakan "kamu ingin cerai", kemudian terjadi perang mulut bahkan istri diludahi. Sementara sang istri tidak mau bercerai karena sudah punya anak.
Peristiwa demi peristiwa tragis terjadi dalam rumah tangga. Anggota keluarga dalam rumah tangga menjadi korban kekerasan dengan pelaku kepala rumah tangga sendiri. Kepala rumah tangga yang seharusnya menjadi tonggak perlindungan, sebaliknya menjadi pelaku kekerasan. Keluarga sering kali menjadi tempat yang dominan untuk terjadinya tindakan kekerasan.
Bentuk-bentuk kekerasan yang sering adalah mengancam, kekerasan emosional atau kekerasan psikologikal, kekerasan fisik, kekerasan karena finansial, kekerasan seksual dan lain-lain.
Bentuk-bentuk kekerasan dapat berupa pemukulan, tamparan, lemparan benda, benturan, tusukan benda tajam. Bisa juga berupa diejek, tidak dihargai, ketergantungan pada pelaku, membatasi ruang gerak, dan pelecehan serta perkosaan.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau Domestic violence menyebabkan luka hati, kecelakaan, bahkan kematian. Yang menjadi korban selalu perempuan, dan lebih sering terjadi pada keluarga dengan status ekonomi yang rendah, namun tidak menutup kemungkinan mengenai berbagai strata.
Sering kali KDRT tidak terlaporkan, karena ketakutan menghadapi tuduhan balik, sedangkan sang istri tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Karena sumber finansial berasal dari suami.
Meski sudah ada UU nya, KDRT merupakan fenomena yang sulit terungkap karena cenderung memendam sendiri penderitaannya. Istri sebagai korban takut aib keluarga diketahui oleh tetangga.
Jika yang terjadi kekerasan psikis atau kekerasan akibat finansial, dianggap peristiwa tersebut belum termasuk KDRT, karena tidak mempunyai tanda seperti kekerasan fisik.
Laju biduk perkawinan merupakan hasil kerja sama antara suami dan istri serta anak-anak. Pada hakikatnya ketergantungan merupakan sikap umum perempuan. Suatu sikap yang ingin dilindungi dan dipelihara.
Ketergantungan atau ketidakmandirian merupakan hal utama yang paling melumpuhkan perempuan hingga saat ini, seperti yang diungkapkan dalam buku Cinderella Complex karangan Colette Dowling. Jika terjadi konflik antara ketergantungan dan kemandirian perempuan akan mencari jalan keluar dengan kerja keras/berusaha keras (working through) untuk mengatasi keadaan.
KDRT terjadi karena berbagai macam aspek. Beberapa hal yang seringkali menjadi penyebab adalah masalah kedudukan sosial, stres, citra diri, nilai-nilai pribadi yang diterima dan dianut suami sejak dari keluarga asalnya.
Komunikasi yang tidak sehat dalam rumah tangga akan mencetuskan ketegangan yang bermuara pada konflik. Konflik-konflik tersebut dapat mencetuskan KDRT.
Perempuan dianggap sebagai warga kelas dua. Jenis kelamin perempuan ditempatkan dalam posisi subordinat atau bawahan. Sedangkan jenis kelamin laki-laki sebagai superordinat atau menduduki posisi dominan.
Kodrat apa pun seorang perempuan, sebagai ibu rumah tangga, atau pun sebagai wanita karier setara mulianya profesi tersebut. Eksistensi perempuan tidak memandang jenis pekerjaan yang dipilihnya.
Dampak Domestic Violence
Bagi anak-anak, terjadi proses pembelajaran, berlaku teori modeling. Anak yang dibesarkan dengan tindak kekerasan akan menjadi pelaku kekerasan di ke- mudian hari. Misalnya seorang anak laki-laki tinggal bersama ayah yang suka melakukan kekerasan terhadap ibunya. Maka anak tersebut akan berlaku sama yaitu cenderung menggunakan cara yang sama kepada pasangannya di kemudian hari.
Gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental dapat terjadi pada korban berupa korban berupa trauma, keguguran, penyakit menular seksual, sakit kepala, masalah kandungan, gangguan pencernaan, perilaku hidup tidak sehat dan kecacatan. Gangguan kesehatan mental dapat berupa stres, gangguan depresi, gang- guan kecemasan, disfungsi seksual, psikotik, kepribadian ganda, gangguan obsesif kompulsi dll.
Seandainya pihak korban KDRT mau menguak tabir penderitaan dan mencari pertolongan kepada pihak luar, diharapkan tidak terjadi lagi kasus-kasus KDRT yang membawa korban, bahkan korban jiwa.
Pemahaman mengenai kesetaraan gender dan keikhlasan laki-laki untuk mengakui kesetaraan gender merupakan salah satu kunci untuk menghindari KDRT. Kekeliruan dalam perbedaan gender telah mengakibatkan kaum perempuan dalam kondisi yang dirugikan.
Perempuan pekerja, selain bekerja di kantor, juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selain itu mengalami kekerasan dan penyiksaan baik fisik dan mental. Serta berbagai bentuk pelecehan yang muncul akibat perbedaan gender baik di lingkungan kerja maupun di lingkungan sosial lainnya.
Masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan bukan hanya masalah individual, melainkan masalah struktural dan kultural. Dengan demikian harus disadari, direnungkan dan dipahami bahwa perempuan diciptakan dari rusuk lelaki. Bukan dari kepala untuk dijunjung atau dari kaki untuk diinjak tapi dari rusuk untuk senantiasa setara dan melakukan segala sesuatu secara bersama.

Posting Komentar untuk "Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Dampaknya "
Silahkan berkomentar sesuai dengan topik yang dibahas!