Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Cekatan

Dari penelitian yang dilakukan terhadap pasien-pasien yang menderita gangguan dan penyakit jiwa, dan terhadap orang-orang yang tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup, terbukti bahwa sebab-sebab yang terbesar terletak pada pendidikan yang diterimanya, terutama pendidikan waktu anak-anak.

Dapat dikatakan, bahwa pendidikan itulah yang banyak menentukan hari depan seseorang, apakah ia akan bahagia atau menderita, apakah ia akan menjadi orang baik, ataukah akan menjadi perusak masyarakat. Dan pendidikan pula yang akan menentukan apakah si anak nantinya akan menjadi orang yang cekatan, terampil, mandiri dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

Masalah anak-anak dan pendidikan adalah suatu persoalan yang amat menarik perhatian, terutama bagi ibu-ibu yang setiap hari menghadapi anak-anak. Banyak orang tua yang mengeluh apabila melihat hasil didikannya kurang menggembirakan. Banyak pula orang tua yang kebingungan, tak tahu bagaimana cara menghadapi anak yang rewel, keras hati, keras kepala, nakal, sukar diatur waktu makan, tidur, dan bermainnya.

Tak dapat disangkal, bahwa setiap orang tua ingin agar anaknya sehat, lekas besar, lekas pandai, sopan, cekatan dan menjadi orang yang baik nantinya. Akan tetapi, tetapi, banyak anak-anak yang merasa seolah-olah mereka tidak memperoleh perhatian dari orang tuanya, atau perlu diikat dan dibatasi kemerdekannya. Bahkan ada anak-anak yang merasa tidak disayangi oleh orang tuanya. Perasaan-pe- rasaan tidak rasaan tidak menyenangkan itulah yang banyak mempengaruhi kelakuan, perasaan dan kesehatan mereka.

Dengan melatih anak mengemban tanggung jawab, dapat membentuk kepribadian dan membuatnya tampil cekatan untuk hidup mandiri dan saling tolong-menolong dengan orang lain.

Syaikh Akram Mitsbah Utsman dalam bukunya Cara Mencetak Anak Tangguh, terbitan Pustaka Alkautsar, menjelaskan bahwa untuk mendidik anak dengan sifat cekatan, dibutuhkan pembentukan pribadi yang mandiri, yang memiliki keseragaman dan keterpaduan fisik, emosi, akal dan sosial, rasa percaya diri dan kemampuan hidup mandiri, tanpa mudah menyerah dan meminta bantuan orang lain, kecuali pada saat dibutuhkan. 

Terlihat terjalinnya keharmonisan hubungan antar sesama dan menyenangi jiwa berkelompok, tanpa ada rasa takut dan bimbang. Hal tersebut sangat berbeda dengan anak yang tidak dapat hidup mandiri, dia selalu mengeluh dan mengumpat, selalu berusaha untuk berada di samping kedua orang tuanya. Dia tidak mampu berdikari dan menggantungkan segala urusan hidup kepada keduanya.

Di antara ciri-ciri kemandirian anak adalah kemampuan dirinya untuk menghadapi permasalahan. Dalam hal ini dibutuhkan peran orang tua dalam memotivasi naluri anak dalam memecahkan permasalahan yang sulit, dengan memberinya dukungan dan dorongan, untuk membenahi kekeliruan yang terjadi dan mengarahkannya pada sikap dan perilaku yang benar.

Pembinaan anak itu bertumpu pada pembiasaan untuk tidak disibukkan oleh permasalahan orang lain, ketika melakukan tugasnya sendiri, sampai dia mendapatkan kondisi yang cocok dan tepat untuk memberikan pengaruh.
Sifat cekatan membuat seseorang mengenal tanggung jawab yang akan mewujudkan tujuannya, bukan untuk menjadikannya pribadi yang gegabah atau teledor. Seseorang yang merenungi realitas kehidupan anak melihat, bahwa banyak anak-anak yang membutuhkan kebanggaan dan penghargaan atas keistimewaan yang dimiliki. Namun yang terlihat justru mereka sangat pasif, tidak memiliiki inisiatif untuk mengoptimalkan kemampuan diri dan lingkungan di sekitarnya.

Dengan melatih anak mengemban tanggung jawab, dapat membentuk kepribadian dan membuatnya tampil cekatan untuk hidup mandiri dan saling tolong-menolong dengan orang lain. Adapun orang yang pasrah, dia akan lari dari tanggung jawab. Perasaannya me- ngatakan, "Hanya sampai di sini kemampuannku dan tidak mungkin bagiku melakukan sesuatu, ini bukan salahkku, karena merekalah yang telah melakukan kesalahan."

Covie Stephen dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Hisyam Abdullah, Al 'Adat As-Sab'lil Qadah Idariyin, menjelaskan bahwa pribadi. yang cekatan, akan memfokuskan upaya dalam mempengaruhi. Dia melakukan pekerjaan yang dirinya dapat berbuat sesuatu di dalamnya. Potensi yang dimiliki berkembang dan tumbuh secara positif, sehingga dapat memperluas peran dan pe- ngaruhnya.

Agar dapat membentuk anak dengan pribadi yang cekatan, orang tua harus membenahi diri mereka terlebih dahulu. Agar anak menjadi pribadi yang cekatan dan aktif, maka orang tua harus merubah pola pikir, tradisi, dan cara lama yang memandang secara pasif terhadap permasalahan yang dihadapi, serta selalu melontarkan cemoohan, menuduhnya lalai dan gagal.

Menumbuhkan rasa percaya diri dan saling menghormati membuat anak dapat menerima segala permasalahan dengan lapang dada dalam nuansa yang penuh dengan toleransi, kecintaan dan rasa aman. la akan terhindar dari perasaan tertekan dan kebimbangan, lemah dan keraguan dalam mengambil keputusan yang tepat, terutama pada saat genting yang membutuhkan sifat cekatan dalam menghadapi permasalahan sulit.

Memberikan anak kebebasan mengutarakan pendapat, mendengarkan permasalahan dan mendiskusikannya melalui dialog yang terarah dan konstruktif, dapat membantunya bersikap cekatan dan cakap dalam bersikap pada lingkup yang sangat luas. Ini akan memberinya lompatan yang kuat dalam mengambil keputusan, sesuai dengan kemampuan dirinya dan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Mungkin pada umur-umur tertentu, anak sudah dapat dilatih memasak sedikit demi sedikit. Anak wanita diajar memasak lebih banyak, dibanding anak laki-laki yang juga perlu diajari. Supaya dia bisa memasak ketika ibu dan pembantunya tidak ada walaupun hanya sekadarnya. Hal ini penting agar si anak bisa menolong dirinya sendiri, dan bisa menghargai orang lain. Seharusnya kebiasaan ini diajarkan orang tua kepada anak sejak dini.

Kemudian, anak juga harus dilatih bekerja cermat, tidak sembrono, asal-asalan atau asal jadi dalam mengerjakan sesuatu. Anak yang tidak pernah dilatih atau dibiasakan bagaimana memelihara barangnya, bagaimana mencuci, dan lain-lain, maka bila suatu waktu anak harus pisah dari orang tua karena melanjutkan pendidikan atau keperluan tertentu, maka dia akan dapat mangatasinya sendiri masalahnya dengan cekatan.

Dalam rangka memberikan kehidupan yang baik bagi anak, agar menjadi anak yang terampil, cekatan, mau menolong dirinya dan sanggup menolong orang lain, maka harus menanamkan rasa tanggung jawab pada anak dengan latihan- latihan yang dibiasakan dari kecil. Jika orang tua lalai memberikan latihan-latihan pada anak, maka ketika anak memasuki usia dewasa, dia akan kebingungan, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Keadaan-keadaan inilah yang sekarang cenderung kurang mendapat perhatian dari para orang tua, terutama di daerah kota. Banyak orang tua yang membiarkan anaknya bebas tanpa ada latihan, tahu-tahu anaknya sudah besar. Lalu karena sudah besar, maka dia harus meninggalkan rumah dengan pengalaman yang kosong. Akibatnya anak tidak mempunyai bekal untuk menjalani kehidupan secara produktif dan bermakna bagi lingkungannya.

Avicena
Avicena Sang senja menuju fajar.

Posting Komentar untuk "Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Cekatan"